Dalam diskusi mengenai pemulihan lanskap planet kita yang rusak, Restorasi Lanskap Hutan (FLR) sering disajikan sebagai solusi utama. Dalam narasi tersebut, biochar semakin dianggap sebagai semacam obat mujarab untuk tanah yang terdegradasi yang menghambat upaya-upaya ini. Logikanya sederhana: perbaiki tanahnya, dan hutan akan tumbuh.
Namun, sebagai pengamat proyek-proyek ini, saya percaya pandangan ini sangat tidak lengkap. Ini memperlakukan biochar sebagai produk yang dibeli, bukan sebagai hasil akhir dari jaringan proses kompleks yang dimulai jauh di dalam hutan yang ingin kita kelola. Kisah nyata biochar dalam restorasi tidak hanya terletak pada tanah; tetapi juga pada rantai pasok, ekonomi, dan filosofi pengelolaan hutan yang menghasilkannya.
Dari kesehatan hutan ke kesehatan tanah
Sebelum biochar menyentuh tanah yang terdegradasi, kisahnya dimulai dengan tantangan ekologis yang berbeda, yaitu pengelolaan hutan yang terlalu lebat dan tidak sehat. Di seluruh Amerika Serikat dan tempat lain, puluhan tahun penekanan kebakaran telah menyebabkan tegakan yang terlalu padat rentan terhadap kebakaran hutan dahsyat, serangga, dan penyakit.
Pengelolaan hutan lestari sering melibatkan penjarangan tegakan ini untuk meningkatkan kesehatan dan ketahanannya. Proses ini menghasilkan volume biomassa kayu “tidak bernilai jual” yang sangat besar—pohon berdiameter kecil dan residu dengan sedikit nilai bagi industri kayu tradisional. Secara historis, tumpukan sisa tebangan ini hanya dibakar, melepaskan karbon dan berpotensi merusak tanah di bawahnya.
Di sinilah letak wawasan kritis pertama. Memproduksi biochar dari kayu “limbah” bukan hanya proses manufaktur; ini adalah alat restorasi itu sendiri. Ini memberikan penggunaan produktif untuk bahan bakar berbahaya, mengurangi risiko kebakaran hutan, dan menciptakan nilai dari apa yang dulunya merupakan beban. Oleh karena itu, proses restorasi tidak dimulai saat biochar diaplikasikan, tetapi saat keputusan dibuat untuk mengubah residu hutan menjadi alat untuk pembaruan.
Janji di dalam tanah: sebuah platform untuk kehidupan
Setelah diaplikasikan, manfaat biochar telah didokumentasikan dengan baik. Ini bukan hanya kondisioner tanah, tetapi platform fisik dan kimia kompleks yang meningkatkan fungsi ekosistem. Biochar dapat:
- Meningkatkan struktur, kepadatan, dan porositas tanah. Ini meningkatkan kapasitas penahan air tanah, membuat ekosistem lebih tangguh terhadap kekeringan.
- Meningkatkan ketersediaan nutrisi dengan meningkatkan pH tanah dan mengikat kation esensial.
- Menyediakan tempat berlindung bagi mikroorganisme tanah yang bermanfaat, yang merupakan pendorong siklus nutrisi dan kesehatan tanah.
- Meningkatkan biomassa, fotosintesis, dan kinerja fisiologis keseluruhan spesies pionir yang krusial untuk memulai proses restorasi.
Realitas praktisi: pelajaran dalam presisi
Meskipun manfaat-manfaat ini, biochar bukanlah solusi “pasang dan pakai” di mana lebih banyak selalu lebih baik. Karya Lefebvre et al. (2019) di Amazon Peru memberikan pelajaran penting tentang perlunya presisi. Studi tersebut menemukan bahwa meskipun dosis rendah biochar yang dikombinasikan dengan pupuk menciptakan efek sinergis yang kuat yang melipatgandakan pertumbuhan bibit, dosis tinggi biochar justru mengurangi kelangsungan hidup bibit dibandingkan dengan kontrol.
Ini mengungkapkan pertukaran kritis antara memaksimalkan pertumbuhan dan memastikan kelangsungan hidup. Praktisi, seperti yang dicatat oleh para peneliti, harus menilai kepentingan relatif dari setiap tujuan dan mengelola keseimbangan ini dengan tepat.
Hambatan Nyata berada di atas tanah
Ilmunya jelas: biochar, jika diaplikasikan dengan benar, dapat menjadi aset yang kuat untuk restorasi lanskap hutan. Namun, hambatan paling signifikan terhadap adopsi luasnya bukanlah teknis, melainkan sistemik. Seperti yang dicatat oleh Franco et al. (2022), tantangannya terletak pada pengembangan metode ekonomis untuk mengubah biomassa hutan menjadi biochar dan dalam membangun pasar yang kuat untuknya.
Ini memaksa kita untuk mengajukan serangkaian pertanyaan yang lebih sulit. Apakah tujuan utama kita adalah merestorasi tanah, atau mencari metode pembuangan yang menguntungkan untuk residu kayu? Bisakah kita membangun sistem produksi lokal yang terdesentralisasi yang diperlukan untuk membuatnya layak secara ekonomi tanpa menimbulkan biaya transportasi dan jejak karbon yang besar?
Janji biochar sangat besar, tetapi keberhasilannya tidak akan ditentukan oleh ilmu tanah saja. Ini akan ditentukan oleh kemampuan kita untuk membangun sistem yang cerdas, tangguh, dan layak secara ekonomi yang menghubungkan pengelolaan hutan yang sehat di pegunungan dengan restorasi tanah di dataran. Ternyata, tanah hanyalah separuh cerita.


