Skip to main content
Pengetahuan

Biochar dan Api: Apa yang Perlu Diketahui Industri Sebelum Dikirim

By Februari 25, 2026No Comments

Biochar semakin sering dibicarakan sebagai solusi iklim, bahan pembenah tanah, dan alat untuk penyerapan karbon. Diskursus komersialnya berkembang pesat. Namun, yang berkembang lebih lambat adalah kesadaran terhadap satu risiko material yang menyertainya: biochar dapat mengalami penyalaan sendiri (self-ignite). Saat penyimpanan. Saat transportasi. Bahkan kadang lama setelah meninggalkan fasilitas produksi.

Ini bukan risiko teoritis. Ada riwayat regulasi, catatan insiden yang terdokumentasi, dan—per 1 Januari 2026—serangkaian persyaratan internasional wajib yang mungkin belum sepenuhnya diadopsi oleh banyak produsen dan mitra logistik.

Mekanisme

Biochar diproduksi melalui proses pirolisis: dekomposisi termal bahan organik dalam kondisi oksigen rendah atau tanpa oksigen. Hasilnya adalah material padat kaya karbon dengan porositas tinggi. Porositas ini menjadi sumber nilai agronominya—luas permukaan tinggi, kapasitas adsorpsi kuat, serta kondisi yang mendukung kolonisasi mikroba. Namun, dalam kondisi tertentu, ini juga menjadi sumber risiko.

Ketika biochar yang baru diproduksi terpapar oksigen, terjadi oksidasi permukaan yang bersifat eksotermik (menghasilkan panas). Panas ini terbentuk dari dalam material. Dalam kondisi normal—dengan sirkulasi udara yang cukup dan waktu pendinginan yang memadai—panas tersebut akan terlepas tanpa masalah. Namun, jika material dipadatkan terlalu rapat, belum cukup dingin, atau disegel sebelum stabil, panas akan terakumulasi. Yang awalnya hanya pemanasan ringan dapat berkembang menjadi thermal runaway (kenaikan suhu tak terkendali).

Air menambah variabel lain. Pembasahan biochar yang belum stabil sepenuhnya juga merupakan proses eksotermik. Material yang terkena hujan sebelum dikemas, atau menyerap kelembapan saat disimpan di lingkungan tropis, dapat kembali mengalami siklus pemanasan internal yang tidak terlihat dari luar dan sulit dihentikan setelah kontainer ditutup.

Pengukuran suhu permukaan sebelum pengiriman hanya memberikan gambaran sebagian. Massa termal dalam satu tonne-bag biochar memungkinkan bagian inti tetap jauh lebih panas dibanding permukaan selama berhari-hari. Perbedaan inilah yang menjadi sumber bahaya.

Apa yang Terjadi pada Material Serupa

Secara kimia, biochar sangat mirip dengan arang (charcoal): sama-sama material kaya karbon hasil pirolisis bahan organik, diklasifikasikan dalam UN 1361 menurut International Maritime Dangerous Goods Code (IMDG), dan memiliki profil risiko pemanasan sendiri yang serupa. Catatan insiden arang di laut menjadi referensi penting.

Pada 3 Januari 2019, kebakaran terjadi di kapal kontainer Yantian Express saat melintasi Atlantik Utara. Api berlangsung selama tiga minggu. Sebanyak 662 kontainer rusak dan 320 hancur. Investigasi oleh Federal Bureau of Maritime Casualty Investigation menyimpulkan penyebab paling mungkin adalah penyalaan sendiri arang kelapa yang salah deklarasi dalam dokumen pengiriman.

Investigasi sebelumnya—pada kapal MSC Katrina (2015) dan Ludwigshafen Express (2016)—juga mencatat kasus arang dari Asia Tenggara yang terbakar di laut. Dalam kedua kasus, material tersebut telah lolos uji standar UN N.4 dan tidak diklasifikasikan sebagai barang berbahaya. Kesimpulannya: uji tersebut tidak cukup, karena tidak mempertimbangkan perilaku material dalam volume besar di dalam kontainer.

Antara 2015 hingga 2022, setidaknya 68 kebakaran kontainer dikaitkan langsung dengan muatan arang. Data inilah yang mendorong perubahan regulasi besar yang terjadi saat ini.

Posisi Biochar dalam Regulasi—dan Perubahannya

IMDG Code mengklasifikasikan arang di bawah UN 1361: karbon asal hewan atau nabati, Kelas 4.2 (mudah terbakar spontan). Biochar berada dalam kategori kimia yang sama.

Sebelumnya, terdapat jalur pengecualian. Melalui Special Provisions 925 dan 223, pengirim dapat membuktikan lewat uji laboratorium bahwa material tidak memenuhi ambang self-heating dan mengirimkannya sebagai barang non-berbahaya. Namun, hal ini kini telah berubah.

Amandemen IMDG Code 42-24, yang berlaku wajib sejak 1 Januari 2026, memperkenalkan Special Provision 978 khusus untuk material karbon UN 1361. Jalur pengecualian berbasis uji tidak lagi berlaku seperti sebelumnya. Kini, produsen wajib mengikuti protokol stabilisasi yang ketat dan terdokumentasi, serta kondisi pengemasan spesifik sebelum pengiriman dapat dilakukan.

Dokumentasi—meliputi tanggal produksi, waktu pengemasan, dan verifikasi suhu inti—harus menyertai setiap pengiriman, dan menjadi persyaratan wajib bagi perusahaan pelayaran, freight forwarder, dan asuransi maritim.

Perusahaan seperti Hapag-Lloyd dan Britannia P&I Club telah mengeluarkan panduan terkait hal ini. Ini bukan lagi rencana perubahan—regulasinya sudah berlaku.

Mengapa Fase Pengiriman Itu Kritis

Di fasilitas produksi, kondisi masih bisa dipantau. Namun, di dalam kontainer yang melintasi laut tropis selama dua hingga tiga minggu, tidak ada intervensi yang memungkinkan. Suhu dalam kontainer bisa jauh lebih tinggi dari suhu udara luar, terutama jika terkena sinar matahari langsung di atas dek.

Biochar yang dimuat dalam kondisi “hampir aman” akan berada dalam lingkungan tersebut sepanjang perjalanan tanpa kontrol. Insiden Yantian Express menunjukkan skala kerusakan yang bisa terjadi—muatan yang memicu kebakaran hanya sebagian kecil dari total yang hancur.

Implikasi bagi Produsen

Biochar bukan sekadar arang biasa. Profil risikonya bergantung pada bahan baku, suhu pirolisis, dan penanganan pasca-produksi. Namun tanpa dokumentasi termal yang valid dan kepatuhan terhadap standar stabilisasi baru, perbedaan ini tidak terlihat bagi pihak hilir—freight forwarder, pelayaran, asuransi, hingga pelabuhan tujuan.

SP 978 pada dasarnya meresmikan praktik yang seharusnya sudah dilakukan: periode stabilisasi yang terdokumentasi dan catatan suhu yang dapat diverifikasi. Bagi produsen yang belum menyesuaikan operasional dan dokumentasinya, waktu untuk beradaptasi sebenarnya sudah habis.

Risiko kebakaran pada biochar itu nyata, bisa dipahami, dan dapat dikelola. Kerangka regulasinya sudah tersedia. Pertanyaannya sekarang: apakah industrinya akan mengejar sebelum catatan insiden biochar mulai menyerupai arang?

Yuventius Nicky