Kita terlalu sering melihat berita utama: badai ‘sekali dalam seabad’ yang menghantam garis pantai, kota-kota menghadapi banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan petani menyaksikan ladang mereka berubah menjadi sungai. Namun, di balik kehancuran yang terlihat dari peristiwa cuaca ekstrem ini, terdapat krisis yang lebih tenang, lebih berbahaya, yang terjadi tepat di bawah kaki kita.
Hujan deras yang sama yang disebabkan oleh perubahan iklim dan menyebabkan banjir secara sistematis mengikis nutrisi pemberi kehidupan dari tanah pertanian kita. Kita menghadapi krisis kehilangan nutrisi yang menimbulkan ancaman langsung terhadap kualitas dan ketahanan pangan global kita.
Lingkaran setan kerugian
Ini adalah reaksi berantai yang dikonfirmasi oleh konsensus global para ilmuwan. Laporan IPCC 2021 sangat jelas—planet yang memanas menyebabkan peristiwa hujan deras yang lebih sering dan intens. Untuk setiap kenaikan suhu 1°C, atmosfer dapat menahan sekitar 7% lebih banyak kelembapan, memperkuat badai dan menyebabkan banjir bandang bersejarah.
Ketika hujan deras mengguyur lahan pertanian, ia melakukan dua hal dengan efisiensi yang merusak:
- Pencucian (Leaching): Ini bertindak seperti pelarut yang kuat, melarutkan nutrisi penting dan membawanya jauh ke dalam tanah, jauh melampaui jangkauan akar tanaman. Nitrogen, dalam bentuk nitratnya yang sangat mudah bergerak (NO3−), sangat rentan, tercuci seperti sabun saat mandi.
- Aliran Permukaan (Runoff): Ini mengikis permukaan, menyebabkan erosi lapisan tanah atas. Ini merusak dua kali lipat karena lapisan tanah atas ini adalah lapisan yang paling kaya nutrisi. Penelitian telah menunjukkan bahwa tanah yang tererosi dapat mengandung fosfor dan kalium beberapa kali lebih banyak daripada tanah yang tersisa.
Penelitian di Wisconsin memberikan gambaran nyata tentang realitas ini. Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2023, para ilmuwan menganalisis data kualitas air dari seluruh negara bagian dan menemukan dampak badai besar tidak dapat disangkal. Setelah peristiwa hujan satu hingga dua inci, konsentrasi amonia di saluran air lokal melonjak sebesar 56%. Kita menyaksikan kesuburan tanah kita terkikis setiap kali badai datang.
Ini adalah lingkaran umpan balik yang berbahaya. Ketika tanah terdegradasi dan kehilangan bahan organiknya, strukturnya melemah. Tanah menjadi kurang mampu menyerap air, menyebabkan lebih banyak aliran permukaan dan erosi, yang pada gilirannya mengikis lebih banyak nutrisi, semakin merusak tanah.
Dari ladang subur menjadi tanah tandus
Kita tidak menghadapi masalah lingkungan yang abstrak. Krisis kehilangan nutrisi memiliki konsekuensi mendalam bagi kita semua:
- Ketahanan Pangan Terancam: Tanah yang kekurangan nutrisi menghasilkan tanaman yang kekurangan nutrisi. Ini berarti makanan yang kurang bergizi dan hasil panen yang lebih rendah, memberikan tekanan besar pada sistem pangan global yang terbebani oleh pertumbuhan populasi yang eksponensial.
- Ketegangan Ekonomi: Untuk mengkompensasi tanah yang kekurangan nutrisi, petani sering kali terpaksa menggunakan lebih banyak pupuk sintetis. Praktik ini sering berfungsi sebagai strategi manajemen risiko; karena takut kehilangan nutrisi akibat pencucian selama hujan deras yang tidak terduga, petani dapat menggunakan pupuk berlebih sebagai bentuk “asuransi” untuk mencegah potensi kehilangan hasil panen. Kecenderungan untuk menggunakan lebih banyak pupuk guna mengatasi dampak variabilitas curah hujan ini secara langsung meningkatkan biaya operasional bagi petani.
- Degradasi Lingkungan: Penggunaan pupuk yang berlebihan berkontribusi pada kerusakan lingkungan yang signifikan. Nutrisi yang hilang dari ladang menjadi polutan dalam sistem air, yang mengganggu ekosistem akuatik, mengkompromikan kualitas air, dan dapat menyebabkan konsekuensi yang merusak seperti ledakan alga. Aliran permukaan ini pada akhirnya memperburuk krisis global kelangkaan air bersih.
Adaptasi bukanlah pilihan, melainkan keharusan
Kita menghadapi realitas yang menakutkan. Sah untuk berpendapat bahwa solusi utama harus melibatkan penanganan akar masalah: perubahan iklim global. Meskipun demikian, konsensus ilmiah jelas bahwa dampak iklim yang lebih hangat, termasuk curah hujan yang intens, sudah tidak dapat dihindari untuk masa mendatang. Menunggu upaya mitigasi iklim global untuk membalikkan tren ini adalah kemewahan yang tidak mampu ditanggung oleh sistem pangan kita.
Jadi kita menghadapi mandat ganda: kita harus mengejar solusi iklim jangka panjang, sekaligus mengambil tindakan segera untuk mengadaptasi sistem pertanian kita terhadap realitas baru ini. Medan pertempuran paling krusial untuk memastikan ketahanan pangan adalah tanah itu sendiri. Jika kita tidak dapat menghentikan hujan lebat, kita harus memberdayakan tanah kita untuk menahannya. Ini membutuhkan pergeseran strategis menuju pembangunan ekosistem tanah yang secara fundamental lebih tangguh.

Fotografer Yuventius Nicky, “Biochar Mix”, 2025
Biochar sebagai alat untuk ketahanan
Untuk memutus siklus degradasi, kita membutuhkan alat yang secara aktif meningkatkan pertahanan alami tanah. Bersamaan dengan praktik vital seperti pertanian tanpa olah tanah dan penanaman tanaman penutup tanah, salah satu alat paling ampuh dan menjanjikan untuk membangun ketahanan ini adalah biochar. Biochar adalah bahan kaya karbon yang dihasilkan dengan memanaskan limbah organik—seperti limbah pertanian atau kotoran hewan—dalam lingkungan rendah oksigen melalui pirolisis. Jauh dari sekadar solusi penyerapan karbon satu dimensi, ini adalah amandemen tanah canggih yang secara langsung melawan dampak cuaca ekstrem.
Biochar bekerja seperti spons super, secara fundamental meningkatkan kemampuan tanah untuk menahan air dan, yang terpenting, nutrisi. Kekuatannya terletak pada struktur fisik dan kimianya yang unik:
- Magnet Nutrisi — Biochar memiliki luas permukaan yang besar dan muatan listrik negatif. Ini memungkinkannya menarik dan menahan nutrisi bermuatan positif (kation) seperti kalium (K+), kalsium (Ca2+), dan amonium (NH4+). Mineral-mineral esensial ini, yang jika tidak akan tercuci oleh hujan deras, ditahan di tempatnya agar dapat digunakan oleh tanaman, sebuah sifat yang dikenal sebagai peningkatan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK) tanah.
- Reservoir Air — Struktur berporinya bertindak seperti spons mikroskopis di dalam tanah, menyerap dan menyimpan air. Ini membuat tanah lebih tangguh terhadap cuaca ekstrem dengan mengurangi aliran permukaan saat hujan deras dan mempertahankan kelembapan selama kekeringan.
- Surga Mikroba — Struktur berpori yang sama ini menyediakan habitat ideal bagi mikroorganisme bermanfaat yang merupakan mesin dari ekosistem tanah yang sehat, memainkan peran vital dalam siklus nutrisi.
Dengan menambahkan biochar, kita tidak hanya menerapkan perbaikan sementara; kita menambahkan struktur permanen, ketahanan, dan kapasitas jangka panjang bagi tanah untuk mempertahankan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh sistem pangan kita. Ini adalah cara langsung dan praktis untuk menjaga kesuburan tetap terkunci di lahan daripada melihatnya hanyut ke sungai.
Perjuangan untuk ketahanan pangan masa depan kita akan dimenangkan atau dikalahkan di dalam tanah. Seiring dengan intensifikasi perubahan iklim, kita tidak bisa memperlakukan tanah seperti kotoran. Dengan merangkul alat adaptif seperti biochar, kita dapat mulai menyembuhkan tanah kita, mengamankan pasokan pangan kita, dan membangun masa depan pertanian yang benar-benar tangguh.


